Sabtu, 13 Agustus 2011

Peri Cintaku bab 4

hai semuanyaa :D udah pada nunggu ya bab ke 4 nyaa? haha sory ya lama ngepostnya, gue sengaja soalnya di bab ke 4 inilah ending cerita PERI CINTAKU ini :D haha okelaah biar gak banyak yang gue omongin lagi, so silahkaan membaca cemaaan :D


       
                                                              BAB IV
     Sebulan kemudian
     Andrean benar-benar serius menjalani persyaratan yang di berikan oleh Astri kepadanya. Selama sebulan ini dia tidak pernah membuat onar lagi. Tidak pernah cabut atau pun membuat rusuh di kelasnya. Pokoknya dia jadi anak yang baik-baik deh. Temen-temen sekelas Andrean sampai kaget melihat perubahan sifat Andrean, mereka kira Andrean salah minum obat atau salah makan sehingga jadi aneh begini.
     “Ndre, lo gak papa kan?” Tanya Ridho, sahabat sekaligus temen sebangku Andrean.
     “Memang gue kenapa?” Tanya Andrean balik.
     “Lo aneh deh belakangan ini. Lo gak bandel lagi atau pun ngebuat kelas ingar bingar seperti kebiasaan lo selama ini. Lo juga kalo gue ajakin cabut gak pernah mau lagi.”
     “Gue udah nemuin cinta gue, men.” Serunya bahagia.
     “Hah? Siapa?” Tanya Ridho kaget.
      Andrean pun menceritakan tentang Astri. Dari pertama mereka bertemu sampai persyaratan yang diajukan Astri untuknya. Selama bercerita Andrean terlihat sangat bahagia. Dia tidak pernah melihat temennya sebahagia ini hanya karna seorang cewek. Dia ikut senang dengan kebahagian sahabatnya ini.
     “Gue gak tau kenapa, sejak pertama gue ketemu dia gue udah tertarik sama dia. Dia punya keunikan tersendiri buat gue. Gue kayak punya semangat hidup lagi pas ketemu sama dia.” Mata Andrean sampai bebinar-binar mengatakan itu.
     “Gue ikut seneng lo udah nemuin cinta lo. Tapi lo yakin, lo bisa nyanggupin persyaratan dari dia?” Tanya Ridho ragu.
     “Gue yakin, Dho. Gue gak pernah seserius ini hanya karna seorang cewek. Lo sebagai sahabat gue pasti tau banget gue gimanaa orangnya.”
     “Iya sih. Ya udah gue doain moga lo sukses aja deh.”
     “Thanks shob.” Ucapnya sambil tersenyum.
                                                                   ***
     Minggu sore Andrean sudah bersiap-siap ke rumah Astri. Dia ingin mengajak cewek itu jalan.
     Untuk pertama kalinya  dalam sejarahnya mengunjungi rumah seorang cewek, dirinya sampai membuat konsep. Apa yang akan dikatakan, apa yang akan ditanyakan, apa yang akan dilakukan, apa yang akan diceritakan. “Sinting!” desisnya pelan.
       Dibukanya pintu pagar, lalu setelah melepas sepatu, cowok itu berjalan menuju pintu. Diketuknya pintu itu. Pintu di depannya terbuka.
     “Andrean kan?” Bunda Astri terlihat kaget. “Apa kabar kamu?”
     “Baik, Tan,”Andrean menjawab sambil menganggukkan kepala dan membungkukkan sedikit punggungnya. “Tante apa kabar? Sehat?”
     “Sehat. Sehat.” Wanita itu mengangguk-angguk.
     “Mm… Astri ada, Tan?”
     “Oh ada. Bentar ya Tante panggilin. Kamu duduk saja dulu.”
     “Iya, Tante,”
     Bunda Astri pun masuk kedalam kembali. Gak berapa lama dia datang kembali bersama Astri. Astri sedikit kaget melihat kedatangan Andrean kerumahnya.
     “Ngapain lo di rumah gue?” Tanya Astri ketus.
     “Astri, yang sopan sedikit sama tamu!” Bundanya memperingati. “Ya sudah Tante tinggal kedalam dulu ya.”
     “Gue mau ngajakin lo ke suatu tempat.” Ucap Andrean tanpa memperdulikan tatapan benci Astri.
     “Kemana?” tanyanya bingung.
     “Suatu tempat yang indah banget deh. Plis gue mohon, sekali ini aja. setelah itu gue gak bakal minta apa-apa lagi dari lo.” Ucap Andrean setengah memohon.
     Awalnya Astri ragu, tapi setelah melihat tampang Andrean akhirnya dia mengiyakan ajakan Andrean.
     “Ya udah lo tunggu bentar deh. Gue mau ganti baju dulu.” Ucapnya kemudian.
     Andrean benar-benar terlihat bahagia atas jawaban Astri tadi. “Thanks banget Stri.” Andrean tersenyum.
     Astri pun langsung menuju kamarnya untuk ganti baju. Gak berapa lama kemudian dia kembali, tapi kali ini bersama Bundanya dan Veldy.
     “Lho, mau kemana ini?” Tanya Bundanya heran.
     “Mau ngajakin Astrinya keluar sebentar Tante.”
     “Kemana?” Tanya Bunda Astri dengan kening sedikit berkerut.
     “Mau ngajakin Astri makan Tan. Gak jauh-jauh kok.”
     “Jangan malam-malam ya?”
     “Iya, Tan,” Andrean mengangguk, kali ini sambil tersenyum. “Yuk, Stri,” ajaknya.
     “Lo jagain adik gue baik-baik ya.” Pesan Veldy ke Andrean. “Jangan sampai dia kenapa-napa. Dan lo jangan macem-macemin adik gue. Ngerti kan lo?” Veldy memperingati.
     “Iya. Lo tenang aja. dia aman sama gue.” Veldy menjawab sambil tersenyum.
     “Astri pergi ya Bun, Vel. Assalammualaikum.” Pamitnya.
     “Iya, walaikumsalam. Hati-hati ya.” Pesan Bundanya.
     Mereka pun pergi meninggalkan rumah Astri.
                                                              ***
     Andrean membawa Astri ke sebuah bukit yang sumpah indah banget. Menampakkan keseluruhan kota Jakarta. Dan menampakkan dengan jelas seluruh bintang-bintang yang ada di langit. Astri sampai ternganga-nganga melihat tempat itu. Takjub.
      Andrean membiarkan Astri terkesima dengan tempat ini. Ini adalah tempat favoritnya. Kalau dia sedang merasa kacau ataupun gelisah pasti dia kesini. Ini adalah tempat dimana dirinya merasa aman untuk merasa letih dan putus asa.
     “Ini adalah tempat favorit gue. Namanya bukit bintang.” Andrean membuka suara.
     “Bukit bintang?”
     “Iya. Gue yang namain sendiri. Ini tempat favorit keluarga gue. Tapi…” Andrean berhenti berbicara.
     “Tapi apa?” Tanya Astri bingung.
      “Tapi setelah keluarga gue ancur. Gue aja yang sering datang kesini. Bokap sama Nyokap gue hampir gak pernah datang. Malah gue jarang banget di urusin. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing.”
     Ini pertama kalinya Astri mendengar suara terberat yang pernah dikeluarkan Andrean dari mulutnya. Setelah mengatakan itu, wajah Andrean pun lansung menjadi kelam.
     Dan terkuaklah satu rahasia. Rahasia kelam yang saat dituturkan sanggup menenggelamkan Astri dalam ketercengangan total. Menyeretnya ke masa lalu Andrean yang menyakitkan.
     Andrean adalah anak tunggal dari kelurga terpandang. Namun karna kesibukan orang tuanya anak ini jadi jarang banget diperhatikan. Orang tuanya suka berpergian ke luar kota bahkan keluar negri dan gak tanggung-tanggung, mereka pergi kadang hampir sebulanan. Dan kalo pun mereka ada dirumah gak pernah lebih dari lima hari.
     Astri mengerti kini, kenapa Andrean tercatat sebagai murid yang paling bermasalah. Paling banyak membuat pelanggaran. Paling sering mendapat teguran, peringatan, bahkan kemarahan dari para guru, serta terdepan dalam menciptakan huru-hara dan keonaran.
     Andrean kesepian. Jadi satu bentakan atau teriakan marah dari seorang guru, siapapun dia, jadi terasa sedikit meringankan beban kesepian itu, jadi mengikis sunyi yang ia rasakan.
     Untuk pertama kalinya Astri melihat Andrean menangis. Untuk pertama kalinya juga Andrean jatuh terpuruk. Dia sudah tidak mampu lagi menahan beban yang ia tanggung selama ini. Tiba-tiba Andrean memeluk Astri, “Plis. Gue mohon, jangan tinggalin gue. Gue butuh banget lo ada disamping gue.” Pinta Andrean sungguh-sungguh.
     Astri bingung harus berkata apa. Dia pun membalas pelukan Andrean itu. “Lo kuat. Lo pasti bisa ngelawatinnya. Gue akan terus ada disini buat lo.”
     Andrean melepaskan pelukannya. “Terima kasih.” Ucapnya sungguh-sungguh dan sambil tersenyum.
     Astri membalasnya hanya dengan sebuah senyuman.
     Lama kelamaan Astri menyadari kalo dia sayang sama Andrean. Dan dia pun ingin selalu ada untuk Andrean disaat dia mebutuhkan seseorang untuk bersandar. Dia ingin selalu ada untuk Andrean.
     Tiba-tiba cowok itu mengulurkan tangan kirinya, menyentuh belakang kepala Astri. Sambil mencondongkan tubuh, cowok itu mendekatkan kepala Astri ke arahnya. Dan sebelum Astri sempat menyadari, dia merasakn sebuah ciuman lembut dikeningnya. Seketika cewek itu membeku.
     Andrean menjauhkan kepalanya. “Gue sayang banget sama lo.” Ucapnya lembut. Rona merah padam di wajah Astri dan cewek itu jadi sibuk menghindari tatapannya menghangatkan dada Andrean.
     “Pulang yuk, udah malam.” Ajaknya.
     Mereka pun pulang karna hari telah malam.
                                                                   ***
     Dua bulan kemudian.
     Saat pengambilan rapor. Saat ini adalah saat yang paling ditunggu-tunggu oleh Andrean. Karena ia ingin Bu Sam, memanggil namanya untuk mengambil piala juara umum satu dan setelah itu dia bisa berpacaran dengan cewek yang sangat dicintainya itu.
     Astri juga sama tegangnya. Dia berharap Andrean lah yang mendapatkan piala itu. Para sahabat Astri berusaha menenangkannya dan meyakinkannya. Mereka telah mengetahui apa isi hati Astri yang sesungguhnya. Bahwa sahabat mereka itu menyayangi Andrean. Dan begitu pun Andrean. Dan mereka telah mengetahui sisi gelap Andrean dan mereka pun mendukung sahabatnya itu bersama Andrean. Menurut mereka, Astri bisa merubah Andrean mmenjadi lebih baik.
     “Dan juara umum satu adalah….” Suara Bu Sam mulai terdengar untuk mengumumkan siapa juara umum satu kali ini. “Wah kita mempunyai juara umum baru, dia adalah…” Bu Sam menggantungkan kalimatnya. “ANDREAN YUDA.”
     Sontak Andrean kaget, dia tidak menyangka dia bisa menjadi juara umum. Ini berkat seseorang.
     “Kepada Andrean Yuda kami persilahkan menuju podium.”
     Andrean dengan bangganya menuju ke podium untuk menerima pialanya. Piala ini akan dia berikan kepada orang yang sangat dicintainya. Yaitu Astri.
     Astri menangis. Terharu dengan apa yang diperoleh Andrean. Dia sama sekali tidak menyangka Andrean bisa seserius ini.
     Setelah acara selesai, Astri dan teman-temannya berencana untuk pulang. Mereka berjalan menyebrangi jalan menuju halte tidak jauh di depan sekolah mereka. Andrean dari tadi sibuk mencari-cari pujaan hatinya. Akhirnya ia melihat Astri di halte bus.
     Saking senang dan bahagianya, semua rasa itu menghilangkan konsentrasi dan kewaspadaan Andrean terhadap apa pun di sekelilingnya. Ia hanya fokus pada satu titik di halte itu. Ia benar-benar tenggelam dalam semua rasa yang telah mengepungnya begitu lama.
     Tidak dipedulikannya hal lain. Tidak didengarnya orang-orang yang berteriak untuk menyuruhnya minggir. Tidak juga pengemudi sedan itu, yang memanfaatkan kelengangan jalan dengan menambah kecepatan. Sama sekali tidak di duganya bahwa seseorang akan muncul begitu saja. Seseorang yang membawa sebuah piala kebanggaan nya.
     Sebelum sedan itu menghantam Andrean, Astri berlari ke arahnya dan mendorong tubuh Andrean ke pinggir jalan. Gantinya ia korbaankan dirinya sendiri demi orang yang dicintainya.
     Semua bisa mendengar kerasnya bunyi hantaman itu. Logam yang beradu dengan daging daan tulang. Hanya beberapa detik. Tidak ada yang bisa dilakukan. Orang-orang hanya sempat tersentak. Terkesima. Menatap dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.
     Tubuh itu rebah. Darah mengalir. Andrean berlari seperti kesetanan. Sesaat sebelum tubuh itu menghantam kerasnya aspal jalan. Ia menagkap tubuh itu dan memeluknya erat-erat. Seperti tersengat listrik, sahabat-sahabat Astri dan Veldy pun sibuk berlari ke arah Astri.
     Andrean duduk bersimpuh ditengah jalan, dengan Astri dalam pelukan. “Lo… udah berhasil… lewatin persyaratan dari gue….selamat atas keberhasilan lo…” Dengan susah payah Astri mengatakan itu. Darah segar mulai mengalir di pelipisnya.
     Andrean sudah hampir menangis. “Sssttt.. lo jangan banyak omong dulu,” ucap Andrean. Kali ini dia sudah benar-benar menangis. “Vel, lo telpon ambulance, sekarang!” Perintahnya ke Veldy.
     “Udah, lagi dalam perjalanan. Stri lo kuat ya. Bunda bentar lagi datang.” Ucapnya pada Astri.
       Astri menghapus airmata yang turun dari mata Andrean. “Lo… gak boleh nangis… lo harus kuat… gue sayang elo…lo janji sama gue… bakalan terus kayak gini… lo gak boleh bandel lagi…” Ucap Astri tersendat-sendat.
     “Iya gue janji sama lo.” Ucap Andrean. Astri tersenyum.
     Kemudian ia pun menoleh ke arah sahabat-sahabatnya, “Terima kasih… kalian udah mau jadi sahabat gue selama ini…gue sayang kalian semua..” ucapnya dengan nafas yang udah satu-satu.
     “Kami juga sayang sama lo. Lo harus kuat ya.” Mereka sudah menangis semua. Astri hanya tersenyum.
     Pandangannya beralih ke Veldy. “Vel… thanks banget buat semuanya…gue sayang banget sama lo…gue titip Bunda ya…”
     Gak lama Bunda nya datang. “Astriiiii. Kamu kenapa sayang?” Airmata Bundanya sudah bercucuran.
     “Bunda…Astri minta maaf ya…selama ini Astri udah sering buat Bunda marah-marah….maafin Astri ya Bunda…Astri sayang Bunda…” Ucapnya susah payah.
     “Kamu gak boleh ngomong gitu nak, kamu harus bertahan.” Ucap bundanya.
     Astri hanya tersenyum. Tatapannya kembali ke Andrean, “Gue sayang banget sama lo…. Baik-baik ya… I LOVE YOU…”
      Setelah mengatakan itu, sepasang mata yang tadi masih terbuka, masih menatap orang-orang yang ia sayangi. Kini telah menutup untuk selama-lamanya.
     “ASTRIIIIIIIIIII!” Andrean histeris. “Gak! Lo gak boleh pergi. Lo udah janji bakalan nemenin gue terus.” Andrean sekarang benar-benar menangis. Tak sanggup lagi menahan. Orang yang dicintainya “mati” dalam pelukannya. Semua orang yang ada di situ pun menangis histeris.
     Sosok yang ceria itu kini telah diam membisu untuk selama-lamanya.
                                                              ***
     Beberapa saat yang lalu, sebuah piala diletakkan dengan sangat hati-hati di batu nisan Astri. Dan kini di sisi nisan, Andrean duduk bersila diatas rumput. Kepalnya tertunduk kesepuluh jarinya bertaut. Disebelahnya ada Veldy, kedua orang tua Astri, dan sahabat-sahabat Astri. Mereka semua lalu bangkit berdiri, kecuali Andrean. Dia masih ingin berlama-lama di tempat peistirahatan terakhir Astri. Mereka semua menepuk-nepuk bahu Andrean.
     Setelah semua benar-benar pergi, Andrean membuka mulut. “Lo cepet banget ninggalin gue Stri. Gue masih belum bisa nerima semua ini. Gue berharap ini Cuma mimpi buruk, dan pada saat gue bangun nanti lo masih ada buat gue. Tersenyum manis buat gue.” Airmatanya mulai mengalir.
     “Terima kasih untuk semua yang lo kasih buat gue. Makasih banget. Lo yang buat gue sadar untuk apa gue hidup di dunia ini. Terima kasih atas semua cinta yang lo berikan buat gue. Lo yang ngajarin gue apa itu arti mencintai dan di cintai. Terima kasih banyak.” Ucapnya lembut.
      “Sekarang lo tenang ya disana, tidur yang nyenyak. Mimpi indah ya. Lo akan selalu ada di hati gue selamanya, dan sampai kapan pun. Gue akan terus cinta sama lo. Lo adalah PERI CINTA gue. Nama lo akan selalu terukir indah dihati gue.
      Andrean pun bangkit berdiri. Dia meninggalkan tempat itu dalam diam, namun ia yakin Tuhan dan alam akan menyampaikan apa yang ia katakan tadi. Untuk seseorang yang kini dipeluk bumi dan tidur dalam diam.
     Untuk Astri, terima kasih dan seluruh cinta…
                                                                    ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar