Sabtu, 13 Agustus 2011

Peri Cintaku bab 4

hai semuanyaa :D udah pada nunggu ya bab ke 4 nyaa? haha sory ya lama ngepostnya, gue sengaja soalnya di bab ke 4 inilah ending cerita PERI CINTAKU ini :D haha okelaah biar gak banyak yang gue omongin lagi, so silahkaan membaca cemaaan :D


       
                                                              BAB IV
     Sebulan kemudian
     Andrean benar-benar serius menjalani persyaratan yang di berikan oleh Astri kepadanya. Selama sebulan ini dia tidak pernah membuat onar lagi. Tidak pernah cabut atau pun membuat rusuh di kelasnya. Pokoknya dia jadi anak yang baik-baik deh. Temen-temen sekelas Andrean sampai kaget melihat perubahan sifat Andrean, mereka kira Andrean salah minum obat atau salah makan sehingga jadi aneh begini.
     “Ndre, lo gak papa kan?” Tanya Ridho, sahabat sekaligus temen sebangku Andrean.
     “Memang gue kenapa?” Tanya Andrean balik.
     “Lo aneh deh belakangan ini. Lo gak bandel lagi atau pun ngebuat kelas ingar bingar seperti kebiasaan lo selama ini. Lo juga kalo gue ajakin cabut gak pernah mau lagi.”
     “Gue udah nemuin cinta gue, men.” Serunya bahagia.
     “Hah? Siapa?” Tanya Ridho kaget.
      Andrean pun menceritakan tentang Astri. Dari pertama mereka bertemu sampai persyaratan yang diajukan Astri untuknya. Selama bercerita Andrean terlihat sangat bahagia. Dia tidak pernah melihat temennya sebahagia ini hanya karna seorang cewek. Dia ikut senang dengan kebahagian sahabatnya ini.
     “Gue gak tau kenapa, sejak pertama gue ketemu dia gue udah tertarik sama dia. Dia punya keunikan tersendiri buat gue. Gue kayak punya semangat hidup lagi pas ketemu sama dia.” Mata Andrean sampai bebinar-binar mengatakan itu.
     “Gue ikut seneng lo udah nemuin cinta lo. Tapi lo yakin, lo bisa nyanggupin persyaratan dari dia?” Tanya Ridho ragu.
     “Gue yakin, Dho. Gue gak pernah seserius ini hanya karna seorang cewek. Lo sebagai sahabat gue pasti tau banget gue gimanaa orangnya.”
     “Iya sih. Ya udah gue doain moga lo sukses aja deh.”
     “Thanks shob.” Ucapnya sambil tersenyum.
                                                                   ***
     Minggu sore Andrean sudah bersiap-siap ke rumah Astri. Dia ingin mengajak cewek itu jalan.
     Untuk pertama kalinya  dalam sejarahnya mengunjungi rumah seorang cewek, dirinya sampai membuat konsep. Apa yang akan dikatakan, apa yang akan ditanyakan, apa yang akan dilakukan, apa yang akan diceritakan. “Sinting!” desisnya pelan.
       Dibukanya pintu pagar, lalu setelah melepas sepatu, cowok itu berjalan menuju pintu. Diketuknya pintu itu. Pintu di depannya terbuka.
     “Andrean kan?” Bunda Astri terlihat kaget. “Apa kabar kamu?”
     “Baik, Tan,”Andrean menjawab sambil menganggukkan kepala dan membungkukkan sedikit punggungnya. “Tante apa kabar? Sehat?”
     “Sehat. Sehat.” Wanita itu mengangguk-angguk.
     “Mm… Astri ada, Tan?”
     “Oh ada. Bentar ya Tante panggilin. Kamu duduk saja dulu.”
     “Iya, Tante,”
     Bunda Astri pun masuk kedalam kembali. Gak berapa lama dia datang kembali bersama Astri. Astri sedikit kaget melihat kedatangan Andrean kerumahnya.
     “Ngapain lo di rumah gue?” Tanya Astri ketus.
     “Astri, yang sopan sedikit sama tamu!” Bundanya memperingati. “Ya sudah Tante tinggal kedalam dulu ya.”
     “Gue mau ngajakin lo ke suatu tempat.” Ucap Andrean tanpa memperdulikan tatapan benci Astri.
     “Kemana?” tanyanya bingung.
     “Suatu tempat yang indah banget deh. Plis gue mohon, sekali ini aja. setelah itu gue gak bakal minta apa-apa lagi dari lo.” Ucap Andrean setengah memohon.
     Awalnya Astri ragu, tapi setelah melihat tampang Andrean akhirnya dia mengiyakan ajakan Andrean.
     “Ya udah lo tunggu bentar deh. Gue mau ganti baju dulu.” Ucapnya kemudian.
     Andrean benar-benar terlihat bahagia atas jawaban Astri tadi. “Thanks banget Stri.” Andrean tersenyum.
     Astri pun langsung menuju kamarnya untuk ganti baju. Gak berapa lama kemudian dia kembali, tapi kali ini bersama Bundanya dan Veldy.
     “Lho, mau kemana ini?” Tanya Bundanya heran.
     “Mau ngajakin Astrinya keluar sebentar Tante.”
     “Kemana?” Tanya Bunda Astri dengan kening sedikit berkerut.
     “Mau ngajakin Astri makan Tan. Gak jauh-jauh kok.”
     “Jangan malam-malam ya?”
     “Iya, Tan,” Andrean mengangguk, kali ini sambil tersenyum. “Yuk, Stri,” ajaknya.
     “Lo jagain adik gue baik-baik ya.” Pesan Veldy ke Andrean. “Jangan sampai dia kenapa-napa. Dan lo jangan macem-macemin adik gue. Ngerti kan lo?” Veldy memperingati.
     “Iya. Lo tenang aja. dia aman sama gue.” Veldy menjawab sambil tersenyum.
     “Astri pergi ya Bun, Vel. Assalammualaikum.” Pamitnya.
     “Iya, walaikumsalam. Hati-hati ya.” Pesan Bundanya.
     Mereka pun pergi meninggalkan rumah Astri.
                                                              ***
     Andrean membawa Astri ke sebuah bukit yang sumpah indah banget. Menampakkan keseluruhan kota Jakarta. Dan menampakkan dengan jelas seluruh bintang-bintang yang ada di langit. Astri sampai ternganga-nganga melihat tempat itu. Takjub.
      Andrean membiarkan Astri terkesima dengan tempat ini. Ini adalah tempat favoritnya. Kalau dia sedang merasa kacau ataupun gelisah pasti dia kesini. Ini adalah tempat dimana dirinya merasa aman untuk merasa letih dan putus asa.
     “Ini adalah tempat favorit gue. Namanya bukit bintang.” Andrean membuka suara.
     “Bukit bintang?”
     “Iya. Gue yang namain sendiri. Ini tempat favorit keluarga gue. Tapi…” Andrean berhenti berbicara.
     “Tapi apa?” Tanya Astri bingung.
      “Tapi setelah keluarga gue ancur. Gue aja yang sering datang kesini. Bokap sama Nyokap gue hampir gak pernah datang. Malah gue jarang banget di urusin. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing.”
     Ini pertama kalinya Astri mendengar suara terberat yang pernah dikeluarkan Andrean dari mulutnya. Setelah mengatakan itu, wajah Andrean pun lansung menjadi kelam.
     Dan terkuaklah satu rahasia. Rahasia kelam yang saat dituturkan sanggup menenggelamkan Astri dalam ketercengangan total. Menyeretnya ke masa lalu Andrean yang menyakitkan.
     Andrean adalah anak tunggal dari kelurga terpandang. Namun karna kesibukan orang tuanya anak ini jadi jarang banget diperhatikan. Orang tuanya suka berpergian ke luar kota bahkan keluar negri dan gak tanggung-tanggung, mereka pergi kadang hampir sebulanan. Dan kalo pun mereka ada dirumah gak pernah lebih dari lima hari.
     Astri mengerti kini, kenapa Andrean tercatat sebagai murid yang paling bermasalah. Paling banyak membuat pelanggaran. Paling sering mendapat teguran, peringatan, bahkan kemarahan dari para guru, serta terdepan dalam menciptakan huru-hara dan keonaran.
     Andrean kesepian. Jadi satu bentakan atau teriakan marah dari seorang guru, siapapun dia, jadi terasa sedikit meringankan beban kesepian itu, jadi mengikis sunyi yang ia rasakan.
     Untuk pertama kalinya Astri melihat Andrean menangis. Untuk pertama kalinya juga Andrean jatuh terpuruk. Dia sudah tidak mampu lagi menahan beban yang ia tanggung selama ini. Tiba-tiba Andrean memeluk Astri, “Plis. Gue mohon, jangan tinggalin gue. Gue butuh banget lo ada disamping gue.” Pinta Andrean sungguh-sungguh.
     Astri bingung harus berkata apa. Dia pun membalas pelukan Andrean itu. “Lo kuat. Lo pasti bisa ngelawatinnya. Gue akan terus ada disini buat lo.”
     Andrean melepaskan pelukannya. “Terima kasih.” Ucapnya sungguh-sungguh dan sambil tersenyum.
     Astri membalasnya hanya dengan sebuah senyuman.
     Lama kelamaan Astri menyadari kalo dia sayang sama Andrean. Dan dia pun ingin selalu ada untuk Andrean disaat dia mebutuhkan seseorang untuk bersandar. Dia ingin selalu ada untuk Andrean.
     Tiba-tiba cowok itu mengulurkan tangan kirinya, menyentuh belakang kepala Astri. Sambil mencondongkan tubuh, cowok itu mendekatkan kepala Astri ke arahnya. Dan sebelum Astri sempat menyadari, dia merasakn sebuah ciuman lembut dikeningnya. Seketika cewek itu membeku.
     Andrean menjauhkan kepalanya. “Gue sayang banget sama lo.” Ucapnya lembut. Rona merah padam di wajah Astri dan cewek itu jadi sibuk menghindari tatapannya menghangatkan dada Andrean.
     “Pulang yuk, udah malam.” Ajaknya.
     Mereka pun pulang karna hari telah malam.
                                                                   ***
     Dua bulan kemudian.
     Saat pengambilan rapor. Saat ini adalah saat yang paling ditunggu-tunggu oleh Andrean. Karena ia ingin Bu Sam, memanggil namanya untuk mengambil piala juara umum satu dan setelah itu dia bisa berpacaran dengan cewek yang sangat dicintainya itu.
     Astri juga sama tegangnya. Dia berharap Andrean lah yang mendapatkan piala itu. Para sahabat Astri berusaha menenangkannya dan meyakinkannya. Mereka telah mengetahui apa isi hati Astri yang sesungguhnya. Bahwa sahabat mereka itu menyayangi Andrean. Dan begitu pun Andrean. Dan mereka telah mengetahui sisi gelap Andrean dan mereka pun mendukung sahabatnya itu bersama Andrean. Menurut mereka, Astri bisa merubah Andrean mmenjadi lebih baik.
     “Dan juara umum satu adalah….” Suara Bu Sam mulai terdengar untuk mengumumkan siapa juara umum satu kali ini. “Wah kita mempunyai juara umum baru, dia adalah…” Bu Sam menggantungkan kalimatnya. “ANDREAN YUDA.”
     Sontak Andrean kaget, dia tidak menyangka dia bisa menjadi juara umum. Ini berkat seseorang.
     “Kepada Andrean Yuda kami persilahkan menuju podium.”
     Andrean dengan bangganya menuju ke podium untuk menerima pialanya. Piala ini akan dia berikan kepada orang yang sangat dicintainya. Yaitu Astri.
     Astri menangis. Terharu dengan apa yang diperoleh Andrean. Dia sama sekali tidak menyangka Andrean bisa seserius ini.
     Setelah acara selesai, Astri dan teman-temannya berencana untuk pulang. Mereka berjalan menyebrangi jalan menuju halte tidak jauh di depan sekolah mereka. Andrean dari tadi sibuk mencari-cari pujaan hatinya. Akhirnya ia melihat Astri di halte bus.
     Saking senang dan bahagianya, semua rasa itu menghilangkan konsentrasi dan kewaspadaan Andrean terhadap apa pun di sekelilingnya. Ia hanya fokus pada satu titik di halte itu. Ia benar-benar tenggelam dalam semua rasa yang telah mengepungnya begitu lama.
     Tidak dipedulikannya hal lain. Tidak didengarnya orang-orang yang berteriak untuk menyuruhnya minggir. Tidak juga pengemudi sedan itu, yang memanfaatkan kelengangan jalan dengan menambah kecepatan. Sama sekali tidak di duganya bahwa seseorang akan muncul begitu saja. Seseorang yang membawa sebuah piala kebanggaan nya.
     Sebelum sedan itu menghantam Andrean, Astri berlari ke arahnya dan mendorong tubuh Andrean ke pinggir jalan. Gantinya ia korbaankan dirinya sendiri demi orang yang dicintainya.
     Semua bisa mendengar kerasnya bunyi hantaman itu. Logam yang beradu dengan daging daan tulang. Hanya beberapa detik. Tidak ada yang bisa dilakukan. Orang-orang hanya sempat tersentak. Terkesima. Menatap dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.
     Tubuh itu rebah. Darah mengalir. Andrean berlari seperti kesetanan. Sesaat sebelum tubuh itu menghantam kerasnya aspal jalan. Ia menagkap tubuh itu dan memeluknya erat-erat. Seperti tersengat listrik, sahabat-sahabat Astri dan Veldy pun sibuk berlari ke arah Astri.
     Andrean duduk bersimpuh ditengah jalan, dengan Astri dalam pelukan. “Lo… udah berhasil… lewatin persyaratan dari gue….selamat atas keberhasilan lo…” Dengan susah payah Astri mengatakan itu. Darah segar mulai mengalir di pelipisnya.
     Andrean sudah hampir menangis. “Sssttt.. lo jangan banyak omong dulu,” ucap Andrean. Kali ini dia sudah benar-benar menangis. “Vel, lo telpon ambulance, sekarang!” Perintahnya ke Veldy.
     “Udah, lagi dalam perjalanan. Stri lo kuat ya. Bunda bentar lagi datang.” Ucapnya pada Astri.
       Astri menghapus airmata yang turun dari mata Andrean. “Lo… gak boleh nangis… lo harus kuat… gue sayang elo…lo janji sama gue… bakalan terus kayak gini… lo gak boleh bandel lagi…” Ucap Astri tersendat-sendat.
     “Iya gue janji sama lo.” Ucap Andrean. Astri tersenyum.
     Kemudian ia pun menoleh ke arah sahabat-sahabatnya, “Terima kasih… kalian udah mau jadi sahabat gue selama ini…gue sayang kalian semua..” ucapnya dengan nafas yang udah satu-satu.
     “Kami juga sayang sama lo. Lo harus kuat ya.” Mereka sudah menangis semua. Astri hanya tersenyum.
     Pandangannya beralih ke Veldy. “Vel… thanks banget buat semuanya…gue sayang banget sama lo…gue titip Bunda ya…”
     Gak lama Bunda nya datang. “Astriiiii. Kamu kenapa sayang?” Airmata Bundanya sudah bercucuran.
     “Bunda…Astri minta maaf ya…selama ini Astri udah sering buat Bunda marah-marah….maafin Astri ya Bunda…Astri sayang Bunda…” Ucapnya susah payah.
     “Kamu gak boleh ngomong gitu nak, kamu harus bertahan.” Ucap bundanya.
     Astri hanya tersenyum. Tatapannya kembali ke Andrean, “Gue sayang banget sama lo…. Baik-baik ya… I LOVE YOU…”
      Setelah mengatakan itu, sepasang mata yang tadi masih terbuka, masih menatap orang-orang yang ia sayangi. Kini telah menutup untuk selama-lamanya.
     “ASTRIIIIIIIIIII!” Andrean histeris. “Gak! Lo gak boleh pergi. Lo udah janji bakalan nemenin gue terus.” Andrean sekarang benar-benar menangis. Tak sanggup lagi menahan. Orang yang dicintainya “mati” dalam pelukannya. Semua orang yang ada di situ pun menangis histeris.
     Sosok yang ceria itu kini telah diam membisu untuk selama-lamanya.
                                                              ***
     Beberapa saat yang lalu, sebuah piala diletakkan dengan sangat hati-hati di batu nisan Astri. Dan kini di sisi nisan, Andrean duduk bersila diatas rumput. Kepalnya tertunduk kesepuluh jarinya bertaut. Disebelahnya ada Veldy, kedua orang tua Astri, dan sahabat-sahabat Astri. Mereka semua lalu bangkit berdiri, kecuali Andrean. Dia masih ingin berlama-lama di tempat peistirahatan terakhir Astri. Mereka semua menepuk-nepuk bahu Andrean.
     Setelah semua benar-benar pergi, Andrean membuka mulut. “Lo cepet banget ninggalin gue Stri. Gue masih belum bisa nerima semua ini. Gue berharap ini Cuma mimpi buruk, dan pada saat gue bangun nanti lo masih ada buat gue. Tersenyum manis buat gue.” Airmatanya mulai mengalir.
     “Terima kasih untuk semua yang lo kasih buat gue. Makasih banget. Lo yang buat gue sadar untuk apa gue hidup di dunia ini. Terima kasih atas semua cinta yang lo berikan buat gue. Lo yang ngajarin gue apa itu arti mencintai dan di cintai. Terima kasih banyak.” Ucapnya lembut.
      “Sekarang lo tenang ya disana, tidur yang nyenyak. Mimpi indah ya. Lo akan selalu ada di hati gue selamanya, dan sampai kapan pun. Gue akan terus cinta sama lo. Lo adalah PERI CINTA gue. Nama lo akan selalu terukir indah dihati gue.
      Andrean pun bangkit berdiri. Dia meninggalkan tempat itu dalam diam, namun ia yakin Tuhan dan alam akan menyampaikan apa yang ia katakan tadi. Untuk seseorang yang kini dipeluk bumi dan tidur dalam diam.
     Untuk Astri, terima kasih dan seluruh cinta…
                                                                    ***

Kamis, 28 Juli 2011

Peri Cintaku bab 3

heeei ceman-ceman :D maaf yaak baru ngepost lagi hho :p ini nih bab 3 lanjutaan dari bab 2 nyaa novel  PERI CINTAKU ini :D selamaat membaca ceemaaan, cekidoot :D


bab III 


     Keesokan paginya saat Astri dan Veldy hendak mau berangkat ke sekolah, saat mereka membuka pintu pagar rumah, mereka melihat Andrean sudah duduk manis diatas motornya. Sambil menghisap sebuah rokok.

     “Lo ngapain disini Kak ? Tanya Astri heran.
     “Mau ngejemput elo.” Jawab Andrean kalem.
     “Apa ? mau jemput gue ?” Astri ternganga lebar mendengar jawaban Andrean tadi.
     “Iya.”
     “Gak. Gue berangkat sama Veldy, sepupu gue. Jadi lo gak perlu repot-repot buat jemput gue.” Ucap Astri ketus.
     “Iya Kak. Astri biar berangkat sama gue aja.” Veldy ikut angkat bicara walaupun sebenarnya dia takut.
     Andrean menoleh ke arah Astri sebentar kemudian menoleh ke Veldy. “Hari ini gue pengen dia berangkat sama gue. Bisa ?” pintanya pada Veldy.
     Astri sudah memolototi Veldy untuk tidak mengiyakan permintaan Andrean.
     “Maaf Kak. Saya gak bisa. Bundanya udah percayaiin dia sama saya.” Ucap Veldy tegas.
     Andrean tampak kecewa dengan jawaban Veldy. “Ya udah gak papa.” Setelah mengatakan itu ia pun menghidupkan motornya lalu pergi.
     “Lo ada hubungan apa sama dia ?” Tanya Veldi.
     “Maksud lo ?” Astri bingung dengan apa yang ditanyakan Veldy tadi.
     “Iya lo ada hubungan apa sama Andrean sampai-sampai dia jemput lo sekolah ?”
     “Gak ada hubungan apa-apa. Gue juga bingung tiba-tiba dia udah nongol didepan rumah dan mau jemput gue.”
     “Gue juga bingung jadinya.” Ucap Veldy sambil menggaruk-garuk kepalanya yang gak gatal itu.
     “Udah ah gak usah dipikirin. Ayo berangkat. Udah jam setengah tujuh lewat nih.”
     “Ya udah buruan naik.”
     Mereka pun segera menuju kesekolah.
                                                               ***
     Sesampainya disekolah.
     “Lo entar pulangnya naik bus aja ya. Gue mau latian basket dulu. Pulangnya kayaknya bakalan sore.” Ucap Veldy setelah Astri turun dari motor.
     “Oh ya udah deh. Nanti juga gue mau ketoko buku dulu. Mau nyari novel.”
     “Ya udah nanti lo kabarin Bunda lo dulu kalo mau pulang telat. Takutnya entar dia bakal nyari-nyari lo.”
     “Sip bos.” Astri menjawab sambil bersikap hormat ke Veldy.
     “Lebay deh lo. Ya udah lo kekelas gih. Udah mau bel.”
     “Iya deh. Bye Veldy.” Ucap Astri manis.
     “Iya bawel. Sana gih.” Veldy tersenyum.
     Merekapun berpisah diparkiran. Dalam perjalanan menuju kelasnya Astri gak sengaja melihat Andrean. Dia sedang duduk manis dilapangan futsal. Cowok itu terus memperhatikannya. Astri yang merasa diperhatikan begitu jadi memepercepat langkahnya menjadi setengah berlari. Ngeri.
     Sesampainya dikelas Astri ngos-ngosan seperti habis perjalanan jauh.
     “Lo kenapa ?” Tanya Zizi bingung.
     “Habis marathon gue.” Jawab Astri asal.
     “Gue serius nih. Lo kenapa kayak orang abis lari-larian gitu.”
     “Lo tau gak, tadi pagi Kak Andrean jemput gue kerumah.” Serunya tertahan.
     “Hah ? apa ?” Putri dan Feria yang tadi gak tertarik dengan kedatangan Astri gara-gara sedang menyalin pr fisika jadi menoleh serta merta ke arah Astri.
    “Ada apaan nih ?” Swita yang baru datang langsung ikut berbaur dengan sahabat-sahabatnya itu.
     “Tadi pagi Kak Andrean jemput gue kerumah.” Astri mulai bercerita.
     “Serius lo ?” Tanya Swita gak percaya.
      “Iya gue serius.”
      “Terus lo berangkat sama dia gitu ?” Tanya Feria Penasaran.
      “Ya gak lah. Mana mau gue.” Seru Astri serta merta.
      “Kok lo gak mau sih ? padahal kan lo beruntung banget sampai dijemput sama seorang Kak Andrean ?” Kali ini Putri yang berbicara.
      “Ih ogah deh. Cukup sekali gue diantar pulang sama dia.” Jawab Astri ketus.
      Bel masuk pun berbunyi. Mereka langsung menuju ketempat duduk masing-masing karna jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Pelajaran bahasa jepang. Pelajaran yang bisa buat rambut yang pada  lurus jadi keriting dan yang rambut kerititng jadi pada lurus.
                                                               ***
     Jam pulang sekolah. Dikoridor utama, hanya Zizi dan Astri yang agak belakangan pulang karna harus piket dulu. Mereka sedang menuju gerbang.
     “Zi, lo temenin gue ketoko buku yuk?” Pintanya kepada Zizi.
     “Gue gak bisa. Ada urusan mendadak nih, jadi harus pulang cepet.”
     “Yah. Gue males nih kalo pergi sendirian.”
     “Lo coba minta temenin sama yang lain deh. Gue bener-bener gak bisa.”
     “Udah. Tapi pada gak bisa juga.” Astri cemberut.
     “Ya udah besok-besok aja kan bisa.”
     “Gak bisa. Entar novel yang gue incer udah keburu abis. Makanya gue mau hari ini.” Ujar Astri.
     “Ya udah kalo gitu lo pergi sendiri aja deh. Biasanya lo juga sendiri kan?” Ucap Zizi.
     “Iya juga sih.”
     “Ya udah gue pulang duluan ya. Bye.” Pamit Zizi ke Astri. Mereka pun berpisah didepan gerbang.
     Astri berjalan menuju halte yang terletak gak jauh dari sekolahnya. Jam segini pasti udah sepi karna udah lewat jam pulang sekolah. Hanya segilintir siswa saja yang masih terlihat.
      Tak lama setelah ia sampai dihalte, bus tujuannya pun muncul. Ia pun segera naik. Perjalanan menuju ketoko buku itu hanya memerlukan waktu lima belas menit. Dia gak bakal lama-lama setelah novel incarannya dapat dia bakal langsung pulang.
     Gak beberapa lama pun Astri sudah sampai ditoko buku itu. Dia langsung masuk kedalam dan berjalaan menuju ke rak novel. Novel incarannya sudah terlihat dari jauh. Hanya tinggal satu buku. Dia pun makin mempercepat langkahnya, takut novel itu bakal keduluanan sama orang lain.
     Setelah sampai ke rak novel tersebut, Astri langsung mengambil novel itu. Tapi saat tangannya menyentuh novel itu seseorang juga menyentuhnya. Astri mendongak dan melihat siapa orang yang ingin berebutan novel dengannya.
     “Elo ?” Ujar Astri kaget. Ternyata itu Andrean. “Ngapain lo disini ?” Tanya nya heran
     “Iya, gue. Ngapain ? ya nyari buku lah. Bego deh pertanyaan lo.” Andrean tersenyum geli.
     “Oh.” Jawab Astri singkat.
     “Lo juga nyari novel ini ? ya udah buat lo aja deh.” Ucap Andrean kalem sambil menunjukkan novel itu kearah Astri.
     “Memang harus buat gue. Gue udah nunggu lama banget sampai ni novel keluar dan gue gak mau sampai harus ngalah sama lo.” Ucap nya ketus ke Andrean.
     “Ya udah nih.” Andrean menyerahkan novel itu.
     Setelah menerima novel itu Astri langsung menuju ke kasir. Dia malas berlama-lama berdekatan dengan Andrean. Andrean mengikutinya dari belakang.
     “Lo habis dari sini mau kemana ?” Tanya Andrean tiba-tiba.
     Astri menoleh dan menatap Andrean sambil mengerutkan keningnya. “Kenapa emang ?”
     “Gue mau ngajak lo makan.”
     Astri tidak menjawab ajakan Andrean tadi. Sesampainya dikasir dan setelah membayar novel yang ia beli dia pun langsung keluar dari toko tersebut.
     “Astri, gue suka sama lo.” Ucap Andrean tiba-tiba. Kenceng pula.
     Astri segera menoleh kearah Andrean. Kaget dengan apa yang burusan dia bilang. Dia pun segera menuju kearah Andrean. Sumpah malu-maluin banget. Malah lagi rame banget gini. Semua orang sekarang sedang memperhatikan mereka berdua.
     “Lo gila ya Kak ?!” Astri mulai kesal dengan apa yang Andrean lakukan tadi.
     Andrean hanya tersenyum. “Gue serius suka sama lo. Dari pertama kita ketemu, gue udah tertarik sama lo.”
      “Udah mbak, terima aja. Mas nya ganteng banget gitu. Sayang kalo mbak tolak.” Seru seorang pengunjung yang berada didekat mereka.
     Astri merasa mukanya mulai memanas. Sumpah, malu banget!!. Dia pun menyeret Andrean keluar dari toko buku tersebut. Membawanya menjauh dari keramaian. Agar kejadian seperti tadi gak terulang kembali. Astri membawa Andrean ke sebuah taman yang gak jauh dari toko buku tadi.
     “Apa maksud lo tadi?!” dipelototinya Andrean tajam-tajam.
     “Yang mana?” Tanya Andrean pura-pura bego.
     “Yang tadi ditoko buku lah. Gak usah pura-pura lupa deh!” Kali ini suaranya mulai naik satu oktaf.
     “Oh yang itu. Ya gue suka sama lo.” Jawabnya kalem.
     “Gue gak suka sama lo. Jadi lo gak usah ganggu-ganggu gue lagi. Ngerti lo ?!” Ucap Astri pedas.
     Setelah mengatakan itu Astri langsung balik badan. Tapi satu lengannya langsung dicekal dan tubuhnya diputar paksa untuk menghadap kembali kearah semula.
     “Gak bisa. Lo harus sama gue!”  Ucapnya, pelan tapi tajam.
     Astri melototi Andrean tajam-tajam. Mulai kesal dengan semua tindakan dia hari ini. “Lo piker lo tu siapa? hah? maksa-maksa gue buat suka sama lo.” Bentak Astri.
     “Karna lo memang harus sama gue.” Ucap Andrean tandas dan tak terbantahkan.
     “Lo gila !!” Seru Astri kesal. Disentaknya tangan Andrean dengan kasar kemudian Astri pun pergi.
     “Gue gak akan berhenti gangguin lo, sebelum lo nerima gue jadi cowok lo.” Teriak Andrean.
     Astri menoleh sekilas. “Pshycopat lo!” setelah mengatakan itu dia pun segera pergi meninggalkam taman itu dan menyetop taksi. Karna kalo naik bis dia pasti bakalan harus menunggu dulu dihalte dan Andrean pasti akan mengejarnya.
     “Gue pasti bisa dapetin lo.” Ucapnya pelan. Dia terus memandangi taksi yang membawa tari sampai benar-benar hilang dari pandangan. Lalu dia pun menuju motornya yang diparkir gak jauh dari situ dan pergi.
                                                                  ***
     Tari tidak menyadari hari-hari kacaunya bakalan datang. Muncul mendadak seperti badai padang pasir, rentetan peristiwa terjadi dan berlalu, tanpa terprediksi. Dan sumber dari badai itu adalah Andrean
     Bel masuk berbunyi. Astri dan semua temennya yang masih berada dikoridor melangkah masuk kelas menuju bangku masing-masing. Cewek itu langsung mengeluarkan buku tugas fisikanya dari dalam tas dan meletakkannya diatas meja dalam posisi terbuka.
     Seseorang yang tidak tercatat di kelas itu ikut melangkah masuk. Lansung menuju bangku Zizi dan menjatuhkan diri di sana. Astri terperangah.
     “Apa nih?” Tanpa mengacuhkan tatap terperangah itu Andrean menarik buku di depan Astri. “Oh, tugas fisika.”
     “Apaan sih?!” Refleks Astri berusaha menarik kembali bukunya.
     “Gue mau liat lo bener apa enggak ngerjainnya.”
     “Nggak usah sok pinter deh.’
     “Gue emang pinter, lagi. Jadi gak perlu sok.” Andrean menyeringai. “Liat!”
      Dalam lima menit waktu sebelum Pak Toro sampai, dalam hening yang langsung tercipta begitu kemunculan sang pentolan sekolah itu di sadari seisi kelas, teman-teman sekelas Astri menyaksikkan satu pertempuran, atau bisa juga dikatakan satu penindasn atau unjuk senioritas, terserah masing-masing mata yang memandang. Astri yang berusaha keras untuk merebut kembali buku tugas fisiknya dan Andrean yang ngotot-memaksa untuk mengoreksinya.
     Dengan tangan kirinya, cowok itu mematahkan setiap usaha Astri. Sementara tangan kanannya dengan cepat mengoreksi nomor demi nomor.
     “Ini salah… Yang ini apa lagi, salah banget! Nah, kalo yang ini baru bener…”
     Untuk jawaban Astri yang benar, Andrean membuat tanda centang di tengah-tengah jawaban. Dengan stabilo berwarna ungu, hasil meminjem paksa milik Rini. Untuk jawaban yang penggunaan rumusnya benar tapi perhitungannya salah, Andrean membuat gabungan tanda centang dan tanda silang. Menggunakan stabilo warna biru. Hasil pinjem paksa juga. Kali ini milik Igus.
     Sementara jawaban yang salah, tanpa ampun Andrean langsung membuat tanda silang dengan spidol merah. Hasil pinjem maksa punya Melinda. Sewaktu menyerahkan spidol itu kepada Andrean, wajah Melinda penuh ekspresi rasa bersalah kepada Astri, tapi cewek itu sadar dia gak bisa berbuat apa-apa.
     Udah bikinnya pas di tengah-tengah jawaban, tuh tanda silang ukurannya juga nggak kira-kira pula. Dan seakan belum cukup, dibawah tanda silang itu Andrean menulis kata “salah” dengan ukuran yang bisa bikin orang buta aksara langsung jadi melek huruf!
     Astri ternganga melihat penampilan buku tugas fisikanya kini. Begitu semarak denagn warna. Begitu cheerful dan ceria. Panik, dia berusaha semakin keras menyelamatkan buku tugas fisikanya.
     “Kak Andrean apaan sih?!” bentakkannya mulai diwarnai getaran. Dengan kasar dia berusaha mengenyahkan tangan Andrean yang memegang spidol merah itu jauh-jauh dari bukunya.
     Sekarang teman-teman sekelas Astri benar-benar menyaksikkan sebuah pertempuran. Tepatnya pertempuran ilmu silat tangan kosong. Dengan posisi offense dan defense. Satu menyerang membabi buta, sedangkan yang lain hanya mengambil sikap bertahan. Satu diwarnai gelegak kemarahan, sementara yang lain menganggapnya sebagai permainan yang menyenangkan.
     Astri mengulurkan kedua tangannya dengan posisi kesepuluh jari terarah lurus ke tubuh Andrean. Selain dia berusaha mencegah agar tugas fisikanya tidak berubah menjadi tugas mengambar taman bunga, dia juga berusaha mencubit, mencakar, menjambak rambut, atau mencabik seragam Andrean. Targetnya emang kacau. Yang penting kena!
     Kemarahan yang benar-benar sudah sampai dipuncak kepala membuat Astri beberapa kali nyaris mampu menembus pertahanan Andrean. Mengakibatkan cowok itu akhirnya dengan tegas menunjukkan posisinya dalam hierarki siswa di SMA Airlangga. Bahwa dirinya ada di puncak piramida!
     Andrean meletakkan spidol merah yang dipegangnya dan dengan kedua tangan dihabisinya perlawanan Astri. Dicekalnya kedua tangan cewek itu tepat dipergelangan tangan kemudian ditekannya di atas permukaan meja kuat-kuat!
     Keduanya saling tatap. Kedua bola mata hitam Andrean mengunci bening cokelat tua kedua manik mata Astri. Dibalasnya bara kemarahan yang meletup di kedua mata itu dengan sorot lembut. Baginya cewek ini selalu menyenangkan apa pun reaksinya.
     “Fisika lo parah banget. Lain kali kalo ada tugas lagi, kasih tau gue ya. Ntar gue ajarin,” ucapnya. Dengan suara selembut sorot kedua matanya.
     Sahabat-sahabat Astri langsung klepek-klepek. Dimata mereka-sumpah demi Tuhan!-Kak Andrean emang keren abis.
     Kembali Andrean mengoreksi tugas fisika Astri. Dan tu cowok kayaknya emang jago banget fisika, karena dia mengoreksi dengan cepat. Hanya dengan satu tangan, karena tangan kirinya mencekal kedua pergelangan tangan Astri kuat-kuat di atas meja, Kembali dibuatnya tanda centang, silang, dan silang-centang dengan stabile warna-warni di buku Astri.
     Astri sampai nyaris menangis, melihat buku tugas fisikanya yang sekarang terlihat bak lukisan abstrak hasil karya seorang maestro.
     Pak Toro memasuki ruangan dengan tatapan heran, karena tidak biasanya para murid bisa tenang tanpa kehadiran guru dikelas. Tak lama dia tahu penyebab suasana di ruang kelas itu begitu tertib. Seketika ekspresi wajahnya menjadi kaku.
     “Kenapa kamu disni?!” Ditatapnya Andrean dengan pandang dingin.
     “Pedalaman materi, Pak.” Andrean menjawab dengan nada santai.
     “Kalau kamu mau ikut PM kamu cari Pak Tris sana, Sekarang kamu keluar saya mau mengajar dikelas ini!” Perintah Pak Toro.
     Dengan senyum tipis Andrean bangkit berdiri. Sebelum bangkit berdiri dia berbisik ditelinga Astri “Lo harus jadi cewek gue!” Kemudian dia  berjalan ke depan kelas. Hanya dengan senyum tipis, tanpa kata sama sekali, Andrean membungkukkan punggungnya sedikit lalu melangkah keluar kelas.
     Zizi segera menuju ke bangkunya. “Lo gak papa kan Stri? Tanyanya cemas kepada Astri.
     Astri hanya menggelangkan kepala. Matanya mulai digenangi selaput bening. Zizi dan sahabat-sahabat Astri yang lain hanya bisa menenangkannya dan berusaha menghiburnya.
     “Baiklah kita mulai pelajaran hari ini…” Ujar Pak Toro.
                                                               ***
     Astri menceritakan semua yang Andrean lakukan kepadanya ditoko buku kemarin kepada para sahabatnya. Tentang semua pengakuan gilanya waktu itu. Para sahabat Astri sampai ternganga lebar mendengar cerita Astri. Mereka gak percaya.
     “Lo serius Stri?” Tanya Feria.
     Astri menghela nafas. Berat. “Fiuuhh, iya gue serius.” Jawabnya berat.
     “Ya ampun gue gak nyangka dia suka sama lo dan bisa segila itu.” Putri menggeleng-gelengkan kepalanya.
     “Jadi sekarang lo mau gimana? Tanya swita.
     “Gue gak tau. Gue bingung mesti gimana. Tu orang kayaknya serius banget deh. Dia kayaknya bakalan ganggu gue terus sampai gue nerima dia. Kalo gue gak nerima dia, dia pasti bakalan gangguin gue terus.” Astri udah hampir menangis.
     “Lo coba minta bantuan ke Veldy deh.” Usul Swita.
     “Iya deh ntar pulang sekolah guue mau cerita ke dia.”
     Mereka menepuk-nepuk bahu Astri. “Sabar ya sayang.” Ucap mereka prihatin.
                                                                  ***
     Sepulang sekolah, Astri sudah duduk manis di atas motor Veldy, menunggu kedatangan cowok itu. Gak beberapa lama Veldy datang. Dia melihat Astri sudah duduk manis di atas motornya. Veldy mengerutkan kening, bingung dengan Astri. Dia duduk bersandar di atas motor, pandangannya terarah lurus ke depan. Ke arah gerbang utama. Tapi dari jauh pun Veldy bisa melihat, fokus tatapan Astri tidak tertuju pada gerbang itu.
     Sampai-sampai dia tidak menyadari kalau Veldy sudah beradaa di sampingnya. “Woy, melamun aja lo. Ntar kesambut baru tau lo.” Veldy mengagetkan lamunan Astri.
     Astri terlonjak kaget. “Elo ngagetin gue aja deh! Lo mau buat gue jantungan ya ?” ucap Astri sambil mengelus-elus dadanya.
     Veldy nyengir. “Abis lo dari tadi gue liat melamun aja, gue udah ada di samping lo pun lo gak sadar. Lo kenapa ?”
     “Gue gak papa.” Astri teringat dengan semua kelakuan Andrean tadi kepadanya, dia pun berniat ingin menceritakan itu ke Veldy.
     “Vel, Temenin gue makan dulu yuk?” ajaknya.
     Veldy mengerutkan keningnya. Tidak biasanya Astri seperti ini. “Makan ? tumben banget lo ngajakin makan di luar. Ada apa ?”
     “Ada yang mau gue certain. Tapi gak disini.”
     “Ada apa sih Stri?” tanyanya cemas.
     “Ntar aja gue ceritainnya. Yuk buruan jalan, ntar keburu sore.”
     “Ayo deh. Ya udah lo buruan naik. Ni pake jaketnya.”
     Setelah Astri mengenakan jaket yang diberikan Veldy, mereka pun segera meninggalkan sekolah.
     Veldy memberhentikan motornya di sebuah taman. Tidak terlalu luas, tapi terasa sejuk karena rimbunnya pepohonan. Kemudian Veldy mengajak Astri ke sebuah kolam kecil yang merupakan titik pusat taman itu.
     “Sekarang lo cerita ke gue, ada apa?”dia memulai pembicaraan.
     “Andrean nembak gue dan terus ngejar-ngejar gue.” Astri memulai cerita.
     Veldy sampai ternganga mendengar cerita Astri. Takjub. Gak percaya. Cerita itu pun akhirnya usai. Muka Astri telihat semakin keruh.
     “Sekarang gue mesti gimana?” Tanyanya sedih.
     “Menerut gue, lo harus ngasih dia persyaratan supaya bisa jadi cowok lo. Tapi persyaratan lo itu mesti sesuatu yang gak mungkin dia lakuin.” Vedly memberi sebuah usul.
    “Contohnya?” Tanya Astri bingung.
     Veldy berpikir sejenak, tiba-tiba dia berseru girang. “Gue ada ide. Gimana kalo dia harus jadi juara umum satu dulu di semester ini, baru lo bisa nerima dia jadi cowok lo?”
     Astri menyipitkan mata. Belum yakin banget dengan ide Veldy tadi.
     “Gini, gue tau dia. Dia itu males banget kadang masuk kelas, sering cabut juga malah. Jadi kecil banget kemungkinannya dia bisa jadi juara umum satu. Apa lagi juara umum di sekolah kita itu pinter banget. Belum pernah ada yang bisa ngalahin dia. Jadi kalo dia gagal lo bisa minta dia supaya gak usah ganggu-ganggu lo lagi. Gimana ide gue? Jelas Veldy panjang lebar.
     Muka Astri langsung cerah mendengar penjelasan Veldy barusan. Idenya benar-benar cemerlang. Dan menurut info-info yang dia dengar, Lily, juara umum satu disekolahnya itu memang terkenal pinter banget. Otaknya sangat encer, jadi kecil kemungkinan Andrean bisa mengalahkan Lily.
     “Bagus banget ide lo Vel. Gak sia-sia gue minta saran sama lo. Thanks banget Vel. Thanks.” Ucapa Astri sambil memeluk Veldy.
     Veldy membalas pelukan Astri. “Iya sama-sama.” Veldy tersenyum. “Ya udah balik yuk, udah sore nih.” Ajaknya.
     “Ya udah yuk balik.”
     Mereka pun keluar dari taman itu dan segera pulang. Karna hari telah sore.
                                                                ***
     Untuk pertama kalinya setelah kejadian kemarin, Astri mendatangi Andrean lebih dulu. Begitu bel istirahat berbunyi, Astri mencari-cari keberadaan Andrean. Ternyata dia sedang berkumpul dengan teman-temannya di lapangan futsal. Astri pun segera menuju ke lapangan futsal.
     “Gue mau ngomong sama lo.” Ucapnya setelah sampai di dekat Andrean.
     Andrean mengerutkan kening. Kaget dengan kedatangan Astri secara tiba-tiba. “Ada apa?” Tanyanya.
     Astri melihat kesekelilingnya. Rame banget, gak mungkin dia bakalan ngomong hal itu disini.
      “Gak disini. Ikut gue.” Astri pun segera balik badan dan berjalan meninggalkan lapangan futsal. Andrean pun segera berdiri dan mengikuti Astri.
      Ternyata Astri membawa Andrean ketempat yang benar-benar sepi. Dia membawa Andrean ke taman di belakang sekolah.
     “Lo mau ngapain gue nih? Ngajakin ke tempat sepi begini?” Tanya Andrean geli.
     “Lo gak usah berpikir yang aneh-aneh deh. Gue ada perlu sama lo.” Jawab Astri kesal.
     “Ada apa?” Tanya Andrean.
     “Gue mau nerima lo jadi cowok gue, tapi ada syaratnya.” Ucap Astri penuh semangat.
     “Syarat? Syarat apa?” Tanya Andrean bingung.
     Pijar kemenangan seketika muncul di kedua mata Astri. “Lo harus bisa jadi juara umum satu di SMA Airlangga ini dan ngalahin Lily. Dan lo harus jadi cowok baik-baik. Gak tukang cabut, gak jadi tukang rusuh lagi, pokoknya gak troble maker lagi deh.  Gimana?” Tantang Astri.
     Andrean berpikir sejenak. Dan kemudian jawaban yang di terima Astri membuatnya terkejut. “Oke gak masalah. Gue sanggup ngelakuinnya. Dan gue pastiin lo bakalan jadi cewek gue.” Ucapnya yakin dan sambil mengedipkan matanya ke Astri.
     “Oke kita liat aja nanti. Waktu ujian dua bulan lagi. Lo banyakin belajar aja deh. Banyakin bimbel juga. Biar lo bisa pinter juga kayak Lily.” Ucap Astri seperti meremehkan.
    “Lo meremehkan Gue banget ya. Lo liat aja, gue pasti bisa ngalahin Lily.” Ucap Andrean tandas.
     Astri pun balik badan hendak pergi. Namun belum sempat ia melangkahkan kakinya, Andrean memutar paksa balik tubuh Astri. Dan belum sempat lagi Astri menyadari, Andrean sudah merengkuhnya. Ditenggelamkannya Astri di kedalaman pelukannya.
     “Gue pingin banget meluk elo. Udah gak inget lagi sejak kapan gue harus mati-matian nahan diri.”
     Sedetik jeda di berikan Andrean agar cewek yang saat ini tengah dipeluknya mampu mencerna apa yang diucapkannya.
     Cowok itu melepaskan pelukannya. Kemudian cowok itu berbalik dan pergi. Meninggalkan Astri dalam kebekuan yang membuatnya hanya mampu bisa menatap punggung yang menjauh itu. Bagi Astri, yang barusan terjadi antara ada dan tiada.
    Bisikan itu hanya menelan sekejap waktu. Segala yang terjadi bersamanya juga hanya sekejap waktu. Namun, sekejap waktu itu seperti menghentikan laju sang waktu. Sekejap itu menyingkap yang tersembunyi. Sekejap itu tak terpahami. Sekejap yang seperti abadi.
                                                             ***
     Duduk bersila didepan koridor depan kelasnya, Astri menceritkan semua rencana yang di susunnya bersama Veldy kepada para sahabatnya. Dan kejadian pas kemarin dia mengatakan syaratnya ke Andrean. Tapi dia tidak menceritakan tentang Andrean yang memeluknya.
     “Lo yakin Stri, rencana lo bakalan berhasil? Tanya Swita. Dia agak gak yakin dengan ide sepupu Astri itu.
     “Yakin dong. Yakin banget gue.” Ucap Astri dengan Pedenya.
     “Kalo dia berhasil gimana?” Seru Putri.
     “Gue gak yakin dia bakalan berhasil. Lo semua tau sendirikan si Lily itu pinter banget. Gak mungkin dia sanggup ngalahin Lily. Jadi gue yakin dia gak bakaaln berhasil.”
     “Apa sih yang gak mungkin Stri didunia ini. Semua bisa aja terjadi. Lo jangan terlalu yakin deh.” Kali ini Feria ikut berkomentar.
     “Iya Stri bener. Info yang gue denger-denger Kak Andrean itu pinter juga kok. Lo liat aja kemarin pas dia ngoreksi tugas fisika lo, gak sampai lima menit tugas lo selesai dia periksa. Beratri tu anak pinter Stri.” Seru Zizi.
    Astri berpikir sejenak. Benar juga apa yang di katakan sahabatnya, namun dia gak mau berpikir negative dia harus yakin.
     “Pokoknya kita liat nanti aja deh.” Ucap Astri malas.
     “Terserah lo aja deh.”
     Mereka pun sibuk membicarakan serial korea yang tadi malam di putar di televisi. Rencana untuk Andrean tadi lama kelamaan mereka lupakan. Mereka tidak sadar bahwa dari tadi Andrean mendengarkan percakapan mereka.
     “Gue akan buktiin kalo gue bisa ngelewatin persyaratan dari lo.” Ucapnya pelan. Kemudian ia pun pergi meninggalkan koridor itu.